Detikpos.id – Literasi Publik
Di era banjir informasi seperti sekarang, masyarakat Indonesia bukan kekurangan berita, tetapi kebanjiran opini. Media sosial dipenuhi potongan video, kutipan tokoh, judul provokatif, hingga narasi politik yang terlihat meyakinkan. Namun, tidak semuanya benar secara logika.
Di sinilah pentingnya memahami dua istilah kunci: reasoning (penalaran) dan logical fallacy (sesat pikir).
Apa Itu Reasoning dan Logical Fallacy?
Reasoning adalah proses berpikir manusia dalam menarik kesimpulan dari fakta atau data.
Sementara logical fallacy adalah kesalahan dalam cara berpikir, di mana suatu argumen tampak logis di permukaan, tetapi sebenarnya menyesatkan.
Singkatnya:
– Reasoning = cara berpikir
– Fallacy = kesalahan dalam cara berpikir
Masalahnya, dalam politik dan media sosial, fallacy sering sengaja digunakan untuk mempengaruhi emosi publik.
Fallacy yang Sering Muncul dalam Politik Indonesia
1. Ad Hominem (Menyerang Pribadi, Bukan Gagasan)
Contoh narasi: “Program ini tidak layak dipercaya karena dia bukan dari partai nasionalis.”
Yang diserang adalah orang atau identitas politiknya, bukan isi programnya. Ini sering muncul dalam debat politik Indonesia, terutama menjelang pemilu.
2. Appeal to Authority (Karena Tokoh Besar Bicara)
“Kalau tokoh ini bilang benar, pasti benar.”
Padahal, dalam demokrasi:
– jabatan ≠ kebenaran
– popularitas ≠ data
Banyak pernyataan politik viral karena figur, bukan karena argumennya.
3. False Dilemma (Seolah Hanya Ada Dua Pilihan)
“Kalau tidak mendukung kebijakan ini, berarti anti-negara.”
Ini sesat pikir. Dalam demokrasi, kritik bukan pengkhianatan, melainkan mekanisme kontrol.
4. Post Hoc Ergo Propter Hoc (Sebab-Akibat Palsu)
“Sejak pemimpin ini berkuasa, ekonomi sulit. Berarti dia penyebabnya.”
Padahal:
– ekonomi dipengaruhi faktor global
– krisis bisa warisan kebijakan sebelumnya
Ini contoh reasoning yang tergesa-gesa.
5. Appeal to Emotion (Memainkan Emosi Publik)
Narasi seperti:
“Kalau tidak marah, berarti tidak peduli bangsa”
“Kalau tidak ikut menyebarkan, berarti tidak berpihak”
Ini bukan logika, melainkan manipulasi emosi.
Mengapa Fallacy Laku di Media Sosial?
Karena:
– emosi menyebar lebih cepat dari data
– judul provokatif lebih viral dari analisis
– kemarahan lebih cepat dibagikan daripada klarifikasi
Akibatnya, masyarakat sering percaya dulu, cek belakangan.
Cara Sederhana Mendeteksi Berita Sesat Pikir
Pembaca media online bisa bertanya:
– Apakah yang diserang orangnya atau idenya?
– Ada data atau hanya opini?
– Logikanya lompat atau runtut?
– Apakah emosi saya sedang dipancing?
– Ada sumber jelas atau hanya “katanya”?
Jika jawabannya meragukan, besar kemungkinan ada logical fallacy.
Literasi Logika = Kekuatan Warga Negara
Masyarakat yang memahami reasoning dan fallacy:
– tidak mudah diadu domba
– lebih dewasa dalam berpolitik
– tidak gampang termakan hoaks
– mampu membedakan kritik, fitnah, dan propaganda
Demokrasi yang sehat bukan hanya soal memilih, tetapi berpikir dengan benar sebelum mempercayai.
Penutup
Di tengah suhu politik Indonesia yang dinamis, akal sehat adalah benteng terakhir publik. Memahami logical fallacy bukan untuk memenangkan debat, tetapi untuk menyelamatkan nalar bersama. Media memiliki peran strategis, bukan hanya menyampaikan peristiwa, tetapi mendidik cara berpikir pembacanya.
Catatan Redaksi
Tulisan ini disusun sebagai bagian dari komitmen detikpos.id dalam mendorong literasi logika, demokrasi yang sehat, dan masyarakat yang kritis terhadap informasi.(Redaksi)






