Tragedi Banjir–Longsor Sumut: 281 Tewas, 174 Hilang, Ribuan Mengungsi — Bantuan Mengalir, Kritik Lingkungan Menguat

Pariwisata288 Dilihat

Medan, detikpos.id — Bencana banjir dan longsor besar yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera Utara sejak akhir November hingga awal Desember 2025 menyisakan duka mendalam. Data terbaru yang dirilis BPBD Sumut mencatat 281 orang meninggal dan 174 warga masih hilang. Angka tersebut diperkirakan terus bergerak seiring proses pencarian di sejumlah lokasi bencana.

Korban jiwa terbanyak tercatat di Tapanuli Tengah, dengan 86 warga meninggal dan 104 hilang. Disusul Tapanuli Selatan dengan 79 meninggal dan 38 hilang. Adapun wilayah lain seperti Tapanuli Utara, Sibolga, Humbang Hasundutan, dan Mandailing Natal juga dilaporkan mengalami dampak parah akibat banjir bandang, longsor, dan rusaknya infrastruktur.


Daerah Terparah & Warga Masih Terisolasi

Sejumlah kecamatan di kawasan Tapanuli dan pesisir barat Sumut sempat terputus total akibat jalan dan jembatan ambruk, listrik padam, serta akses komunikasi lumpuh. Petugas gabungan BPBD, BNPB, Basarnas, TNI–Polri melaporkan masih ada kantong-kantong pengungsian kecil di daerah terpencil yang sulit dijangkau.

Ribuan kepala keluarga kini bertahan di posko darurat, dengan kebutuhan mendesak berupa makanan siap saji, air bersih, selimut, susu bayi, obat-obatan, dan perlengkapan kebersihan.


Upaya Pemerintah: Evakuasi Maksimal, Bantuan Darurat Dimassifkan

BNPB mengerahkan helikopter untuk distribusi bantuan ke daerah yang masih terisolasi. Dapur umum, layanan kesehatan bergerak, dan tenda-tenda pengungsian didirikan di sejumlah titik.

Pemerintah pusat juga mengalokasikan anggaran darurat dan penambahan logistik, serta mengkaji kemungkinan penetapan status bencana skala nasional bila situasi berkembang lebih luas.

Sementara itu, pemerintah daerah bersama TNI/Polri terus melakukan pencarian korban, pembukaan akses jalan, hingga perbaikan sementara jembatan dan tenda hunian sementara (huntara).


Solidaritas Mengalir: Dari Masyarakat hingga Dunia Internasional

Bantuan datang dari berbagai organisasi kemanusiaan, badan amal, komunitas diaspora, perusahaan swasta, hingga donasi warga secara langsung. Sejumlah negara, termasuk beberapa mitra bilateral Indonesia, menyampaikan belasungkawa dan kesiapan bantuan melalui jalur diplomatik.

Di media sosial, gelombang solidaritas terus berdatangan untuk membantu percepatan pemulihan Sumatera Utara.


Peringatan Keras dari Pengamat Lingkungan

Para aktivis lingkungan dan akademisi mengaitkan besarnya dampak bencana dengan kerusakan ekosistem di Sumatera bagian utara. Mereka menyoroti:

  • deforestasi yang masif,
  • tata ruang yang lemah,
  • pembukaan lahan di daerah rawan,
  • serta penurunan kualitas daerah aliran sungai (DAS).

Menurut para pemerhati lingkungan, bencana kali ini menjadi “alarm keras” bagi pemerintah untuk menegakkan aturan lingkungan dan memperbaiki mitigasi bencana di tingkat daerah maupun nasional.


Harapan Bertahan dari Reruntuhan

Di balik puing-puing rumah yang tersapu banjir dan longsor, banyak warga hanya berharap satu hal: kejelasan nasib keluarga mereka dan pemulihan secepatnya. Trauma masih terasa, tetapi solidaritas dan kerja bersama terus tumbuh.

Detikpos.id mengajak pembaca untuk mendukung para korban melalui jalur bantuan resmi serta tetap memantau informasi dari BNPB dan BPBD Sumatera Utara.(Red)

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments