Ketika Jalan Rusak dan Harapan Pecah, Saat Masyarakat Metro Lebih Peduli daripada Sang Walikota

Politik, Sosial234 Dilihat

 

Detikpos.id, METRO – Di tengah hiruk-pikuk janji-janji Walikota yang seolah berteriak di ruang kosong, warga Kelurahan Purwoasri dan Kelurahan Purwosari, Kecamatan Metro Utara, Kota Metro, akhirnya mengambil alih kendali atas nasib jalanan mereka. Lubang-lubang menganga yang mengancam pengendara bak jurang kecil di Jalan Dr Sutomo kini bukan lagi sekadar kerikil di sepatu Pemerintah Kota (Pemkot) Metro yang sepertinya terlalu sempit untuk dilalui langkah-langkah nyata.

Lelah menanti realisasi, warga bergotong-royong, membaurkan keringat dan harapan demi membenahi kerusakan yang sudah menganga terlalu lama. Kerusakan ini bukan hanya soal aspal yang pecah, melainkan juga mengenai harapan yang retak karena janji-janji perbaikan yang tak kunjung ditepati. Beberapa pengendara malang bahkan harus rela jatuh tersungkur, kehilangan keseimbangan di jalan tersebut. Tak sedikit yang terluka, ada yang bahkan patah kaki.

“Kami sudah terlalu lama menunggu. Terakhir kali ada pengendara jatuh dan kakinya patah. Itu mendorong kami untuk bergerak sendiri, melakukan pengecoran tanpa mengandalkan bantuan dari Pemkot,” ucap Suyono, Ketua Paguyuban Purwoasri Bersatu saat ditemui wartawan di kediamannya, Rabu (9/10/2024).

Bersatunya warga dalam gerakan ini pun bukan tanpa hambatan. Modal material sepenuhnya dikumpulkan dari kocek masyarakat sendiri. Dari semen, pasir, hingga tenaga, semuanya dikerahkan tanpa pamrih.

“Ini hasil gotong-royong murni. Masyarakat dikoordinasikan melalui jaringan komunikasi antarwarga, bahkan sampai ke tingkat RT dan RW. Tak ada satu pun pihak pemerintah yang turun tangan,” tegas Suyono.

Mengapa tanpa bantuan pemerintah? “Alhamdulillah, justru tidak ada,” kata Suyono. Ia menjelaskan bahwa ketiadaan bantuan tersebut malah menjadi titik balik yang menguatkan solidaritas antarwarga.

Semangat ini juga tampak pada Sabar (72), Danton Linmas setempat. Dengan semangat berapi-api, Sabar bercerita tentang betapa seringnya pengendara, terutama pengemudi motor, terjatuh di jalanan rusak tersebut. “Ada yang sudah terjerembap jatuh berkali-kali. Kami prihatin, dan akhirnya memutuskan bergerak,” ujarnya.

Ironi terasa ketika mengingat sederet janji manis yang pernah didengar warga. Pemkot pernah mengumumkan akan memperbaiki jalan pada bulan Juni.

“Kemudian ditunda Juli. Lalu mundur lagi Agustus. Sampai sekarang, Oktober, dan jalan masih sama. Tak ada yang berubah kecuali kekecewaan,” ungkap Suyono.

Meski kecewa, warga tak berhenti di titik itu. Mereka bahu-membahu, memperbaiki jalan sembari merawat keyakinan bahwa suatu saat, yang tak terlihat akan menjadi nyata. Paguyuban Purwoasri Bersatu bahkan berencana memperluas gerakan ini ke wilayah-wilayah tetangga yang juga terjebak di jalanan penuh lubang.

“Saya hanya berdoa, semoga Allah selalu memberikan rezeki lebih, agar kami bisa melanjutkan perbaikan ini sampai seluruh jalan di Purwoasri dan Purwosari,” ujar Suyono.

Langkah warga Purwoasri dan Purwosari ini mengajarkan bahwa ketika harapan pada janji-janji kosong sirna, masyarakat mampu menjadi tonggak yang menyangga diri mereka sendiri. Dalam sunyi, mereka telah mencatatkan sejarah swadaya jalan yang layak bagi masa depan, meski Pemkot Metro abai dalam melangkah.

 

Pewarta: Yus

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments