Bedah Buku: Ibnu Sina dan Pandangan Abadi Tentang Jiwa

Psikologi, Sosial661 Dilihat

detikpos.id – Nama Ibnu Sina atau Avicenna (980–1037 M) bukan hanya tercatat sebagai filsuf dan ilmuwan muslim besar, tetapi juga sebagai pemikir yang mewariskan gagasan monumental tentang hakikat manusia. Salah satu pemikirannya yang paling berpengaruh adalah pandangan bahwa jiwa manusia tidak pernah hilang, bahkan tetap eksis meski tubuh binasa.

Pandangan ini banyak dituangkan dalam karya besar Kitab al-Nafs (bagian dari ensiklopedi filsafat al-Syifa’), serta dibahas pula dalam al-Najat. Ibnu Sina menegaskan bahwa jiwa manusia—khususnya jiwa rasional—adalah substansi immateri yang tidak tergantung pada tubuh.


Tiga Tingkatan Jiwa

Ibnu Sina membagi jiwa ke dalam tiga tingkatan utama:

  1. Jiwa vegetatif – mengatur pertumbuhan dan reproduksi (dimiliki tumbuhan, hewan, dan manusia).
  2. Jiwa hewani – berkaitan dengan indra dan gerak (dimiliki hewan dan manusia).
  3. Jiwa rasional – kemampuan berpikir abstrak, kesadaran, dan intelektual (khusus manusia).

Jiwa rasional inilah yang menurut Ibnu Sina bersifat abadi, karena tidak tersusun dari materi yang dapat hancur.


Eksperimen Filsafati “Manusia Terbang”

Ibnu Sina memperkenalkan sebuah eksperimen pikiran terkenal yang disebut “Al-Insan al-Ta’ir” (Manusia Terbang).

Ia meminta kita membayangkan seseorang diciptakan dalam keadaan sempurna, melayang di udara, tanpa melihat, mendengar, menyentuh, atau merasakan tubuhnya. Meski tanpa pengalaman indrawi, orang itu tetap menyadari eksistensinya.

Dari ilustrasi ini, Ibnu Sina menyimpulkan bahwa kesadaran diri tidak bergantung pada jasad, melainkan pada jiwa. Dengan kata lain, jiwa tetap ada meskipun tubuh tiada.


Jiwa Abadi dan Ajaran Agama

Pemikiran ini selaras dengan ajaran Islam yang menegaskan keabadian jiwa dan adanya kehidupan setelah mati. Bedanya, Ibnu Sina menegaskan keabadian jiwa dari perspektif filsafat rasional. Bagi Ibnu Sina, jiwa manusia tetap eksis setelah kematian, dan di alam abadi inilah jiwa akan menerima ganjaran atau balasan.


Relevansi Kekinian

Di tengah perdebatan modern mengenai hubungan otak, kesadaran, dan dimensi spiritual, warisan pemikiran Ibnu Sina terasa semakin relevan. Ia mengingatkan bahwa manusia tidak semata-mata tubuh biologis, tetapi juga memiliki jiwa yang melampaui batas materi.


📚 Bedah buku ini mengungkapkan bahwa warisan pemikiran Ibnu Sina tetap hidup hingga kini: jiwa manusia tidak pernah hilang, bahkan saat wujud jasmani lenyap.


✍️ Editor: Tim Redaksi detikpos.id


 

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments