USU dan YAFSI Perkuat Kapasitas Remaja sebagai Garda Terdepan Respon Bencana di Kelurahan Tangkahan Durian

Nasional, Pendidikan136 Dilihat

Langkat – Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara (USU) bersama Yayasan Fajar Sejahtera Indonesia (YAFSI) melaksanakan Program Implementasi Aksi Merespon Peringatan Dini (AMPD) di Kelurahan Tangkahan Durian, Kecamatan Brandan Barat, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Program ini bertujuan meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat melalui penguatan kapasitas remaja sebagai garda terdepan dalam menghadapi potensi bencana.

Kegiatan diawali dengan sosialisasi kebencanaan yang berlangsung di Kantor Kelurahan Tangkahan Durian. Kegiatan tersebut dihadiri oleh Tim PKM USU yang dipimpin Dr. Agus Suriadi, S.Sos., M.Si., bersama anggota tim Franklin Asido Rossevelt, S.AP., M.K.P., dan Dr. Windha, S.H., M.Hum. Turut hadir Ketua YAFSI Badriyah, Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Langkat Iriadi, SKM., M.Kes., jajaran pemerintah kelurahan, tokoh masyarakat, relawan, serta para remaja setempat.

Dalam pelaksanaannya, YAFSI berperan sebagai mitra lapangan dengan mengedepankan pendekatan partisipatif yang melibatkan seluruh unsur masyarakat. Fokus utama program ini adalah membangun kapasitas remaja agar mampu menjadi agen perubahan dalam upaya pengurangan risiko bencana di lingkungan mereka.

Para peserta mendapatkan pembekalan mengenai pengurangan risiko bencana, pemahaman informasi peringatan dini, prosedur evakuasi, komunikasi saat kondisi darurat, hingga simulasi respon cepat. Melalui pelatihan tersebut, para remaja diharapkan mampu menjadi pelopor penyebaran informasi sekaligus penggerak aksi kesiapsiagaan di tengah masyarakat.

Sebagai bagian dari implementasi Program Aksi Merespon Peringatan Dini (AMPD), peserta juga menyusun peta kerentanan dan jalur evakuasi, serta membuat kentongan peringatan dini yang memanfaatkan kearifan lokal sebagai media penyampaian informasi ketika terjadi potensi bencana. Kentongan dipilih karena mudah dikenali masyarakat, tidak bergantung pada jaringan listrik maupun internet, serta dapat digunakan secara cepat untuk memberikan tanda bahaya kepada warga.

Ketua Tim PKM FISIP USU, Dr. Agus Suriadi, S.Sos., M.Si., mengatakan bahwa penguatan kapasitas masyarakat harus dimulai dari kelompok yang memiliki semangat belajar dan mampu menjadi penggerak di lingkungannya.

“Remaja memiliki peran strategis sebagai agen perubahan. Melalui edukasi dan pelatihan yang berkelanjutan, mereka diharapkan mampu menjadi garda terdepan dalam menyebarluaskan informasi kebencanaan serta membangun budaya siaga di tengah masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Yayasan Fajar Sejahtera Indonesia (YAFSI), Badriyah, menegaskan bahwa kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat merupakan kunci dalam membangun ketangguhan daerah terhadap ancaman bencana.

“Pendekatan berbasis partisipasi masyarakat dan pemanfaatan kearifan lokal akan memperkuat sistem peringatan dini yang sederhana, efektif, dan mudah diterapkan. Harapannya, masyarakat semakin siap menghadapi berbagai potensi bencana,” katanya.

Melalui kolaborasi antara Universitas Sumatera Utara dan Yayasan Fajar Sejahtera Indonesia, program ini diharapkan mampu membentuk masyarakat yang lebih tangguh, meningkatkan solidaritas sosial, memperkuat kepemimpinan remaja, serta menumbuhkan budaya gotong royong dalam membangun ketahanan masyarakat terhadap bencana.

Kegiatan ini merupakan bagian dari pelaksanaan Pengabdian kepada Masyarakat yang didukung oleh Lembaga Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Sumatera Utara dan sejalan dengan upaya pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs).

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments